Nuraniku
First day - Friday, december 7th
2006
Setelah
melewati perjalanan yang seru nan tegang, kakimu menginjak tempat ini lagi.
Langit sudah mulai gelap. Sejenak beromantisme dengan nurani setahun kemarin.
Beban dan rasanya berbeda, jauh berbeda.
Aula
ini masih berdiri kokoh, warnanya sudah berubah. Pastinya baru selesai
direnovasi. Lantainya bukan ubin dari semen lagi, telah berganti keramik putih.
Malino, dengan suhu dingin dan pemandangan indahnya…. aku datang lagi…!
“Tidak
ada yang perlu dikenang coy!” alan memecah keheningan yang kuciptakan.
“sekedar,
mengingat hasil kerja keras teman-teman setahun kemarin” Ujarku.
2,
3, dan 4 Desember 2005, tiga hari penuh makna dalam hidupku. Tahun kemarin, aku
hanya bisa menunduk dan berkata “iya”. Bertopeng ketakutan, kepalsuan dan
keinginan memeluk dan membawa pergi semua teman angkatanku. Satu tahun lebih 6
hari aku berdiri di tempat ini lagi. Hari ini.. entahlah… aura yang timbul sudah sangat berbeda. Posisi dan masaku telah
berganti, karena itu mungkin…!
Bingung,
tak tahu mau melakukan apa.Selanjutnya yang terasa saat berada di dalam aula.
Memandangi sekeliling dan sekali lagi beromantisme dengan diri sendiri. Tampakan
teman-teman 06 yang berlalu-lalang menyiapkan acara, para senior berbenah
bercanda dengan gaya, tempat, dan kelompoknya masing-masing.
Sembari
menunggu acara malam ini dimulai, setelah menaruh barang bawaan, aku memilih
menyibukkan diri berpindah-pindah. Menyapa, bercengkrama, dan bercerita dengan yang
lain. Terakhir, merebahkan tubuh kecilku diantara para saudara senasib dan
sepenanggungan (maksudna), meluapkan emosi bersama alunan nada gitar.
Sekitar
jam 10 kurang, “NURANI 2006” dibuka secara resmi oleh P’ Kahar. Meskipun apa
yang diucapkan P’ Kahar saat sambutan terasa sangat konyol dan menuai celaan
terselubung banyak peserta. Ada satu hal yang kuacungi jempol, PercayaDiri yang
sangat luar biasa. Saluto pak.
Doa
bagi semua orang mungkin tidak berguna lagi. Doa bersama yang biasanya hikmat,
malam ini hanya seperti sebuah keharusan dan permainan. Mungkin kita sudah
terlalu angkuh menjadi seorang manusia.
Persembahan
2006 dimulai.
Kreatif,
Seru, Lucu… tentang persembahan mereka. Rangkaian persembahan malam ini cukup
mampu menghidupkan suasana aula yang beku. Ada aura kegembiraan yang keluar
dari orang-orang. 2 Jempol untuk kerja keras mereka.
Tidak
semua orang itu sama, sebagian lagi memilih melancarkan serangan celaan atas
apa yang dipersembahkan teman-teman 2006. Disisipi teriakan-teriakan sok
berkuasa. Biar keren mungkin, atau biar kelihatan tampan, tapi betul-betul
tidak penting bagiku. Hal yang sedikit menggangu emosiku malam ini. Orang-orang
yang tidak tahu cara menghargai kerja keras orang lain. Whatever lah bos….
kita tong seng sebagai….! ha…ha…ha…. cuih…..!
Larut malam.. saat udara semakin dingin saja.
Persembahan berakhir, perubahan suasana sangat terasa. Sudah tidak seramai
tadi.. gk asik neh…. banyak yang memilih terlelap. Semoga mereka masih bisa
bermimpi indah. Sisa malam ku habiskan disamping para guru, ayah, teman,
saudara sehati. Malam ini sangat indah meski jari-jariku beku. Bersama mereka,
ada kehangatan yang kurasa di dalam hati…………..
“Kamu bukan malaikat! Manusia
punya keterbatasan. Apapun usahamu, akan ada saja orang yang merasa tidak puas.
Itu pilihanmu, itu pilihan mereka….. jalani pilihanmu dan lakukan yang terbaik”
Second day – Saturday, December
8th 2006-12-28
Mataku
dan tubuhku kupaksa bertahan. Kasihan, belum diberi kesempatan untuk
beristirahat. Dan mereka memang sudah terbiasa dengan itu.
Pagi
hari yang betul-betul menyenangkan, suara burung dari balik pohon, matahari
yang masih bersembunyi di balik bukit tapi telah terlihat cahayanya, kabut
putih diseberang gunung. Sungguh, hal yang jarang-jarang aku dapati.
“apa
bagus dinikin??????” seperti biasa, pagi hariku pun masih penuh kebingungan.
Sementara yang lain masih tertidur, ada yang sudah bangun sih tapi sibuk dengan
kegiataanya sendiri. Pilihanku jatuh pada aunan besi ditaman aula. Gila
ditempat sepertiini tidak akan membuatku malu, ndak adaji yang liat.
Sambil
bermain ayunan, aku mencoba menyanyikan beberapa bait lagu. Dengan lirik yang
tak sempurna, teriakan sedikit memaksa, fals semakin menyempurnakan indahnya
kegilaanku pagi ini. Dua orang anak kecil dengan pakaian seragam pramuka lewat
didepanku, memnadamg penuh pertanyaan. Aku tersenyum, dibalas dengan senyuman
tulus mereka.
“Raih
mimpimu, walaupun sekolah tidak bisa mengabulkan mimpi. Tapi setidaknya bisa
membantumu menggapai mimpi.” —- to be continued